Langsung ke konten utama

#1 Saat Merasa Entah Kenapa

Entah kenapa dua minggu terakhir ini saya merasa lelah sekali. Hampir setiap hari saya hanya ingin menangis. Hampir setiap hari rasanya cemas. Entah cemas karena apa, yang jelas semuanya hampir-hampir rasanya nggak enak. Sebelum ini saya juga sering merasakan hal yang sama, tapi nggak tahu kenapa porsi yang ini rasanya durasinya lebih lama.

Sampai suatu ketika, beberapa hari yang lalu teman saya bertanya kepada saya,

"Kamu pernah menyerah?"

Mendapat pertanyaan semacam itu, saya tidak langsung menjawabnya. Seketika otak yang menampung memori saya mencoba mengingat dan berfikir,

"Nggak, buktinya sampai sekarang aku masih hidup."

Benarkan? Kamu setuju tidak kalau saya menjawab seperti itu? Kalau teman saya sih,

"Oh, iya yah, benar juga."

Yah, mungkin memang benar. Tanpa menambahkan kata 'mungkin', iya itu benar.

Saya terus berjalan, menjalani hari demi hari, padahal saya sendiri belum tahu saya hidup untuk apa selain pulang ke Sang Pencipta dengan amalan baik yang cukup.

Rasanya seperti saya kehilangan diri saya sendiri. Diri saya yang asli. Dia entah kemana. Mungkin kecemasan dan ketakutan akan hidup sudah merenggut dia tanpa meminta izin ke pemiliknya yaitu saya yang sekarang. Tapi kalau dipikir kembali, sebenarnya diri saya yang waktu kapan yang saya sebenarnya mau? Atau saya mungkin sebenarnya belum menemukan diri saya yang asli. Mungkin selama hidup 22 tahun, saya hanya memakai topeng.

Masa SD saya yang terlalu pemalu, masa SMP saya cukup menonjol tapi tidak terlihat, masa SMA yang adalah menurut saya masa terburuk sepanjang di bangku pendidikan wajib. Ranking hampir selalu terakhir, tapi kalau saya boleh berdalih, saya itu selama tiga tahun di SMA berada di kelas unggulan, jadi misalkan saya mendapat ranking dengan urutan seperti itu, sebenarnya tidak terlalu bodoh, tidak sebegitu bodohnya. Boleh tidak kalau saya menyimpulkan seperti itu? (Ah, kalau bodoh sih bodoh saja. Hmm.)

Mungkin karena hal itu yang akhirnya bisa menendang saya ke Solo. Solo itu jauh. Bahkan saya sama sekali nggak pernah membayangkan kalau saya bakal kuliah di tempat yang sejauh itu. Tempat yang nggak pernah ada dalam pikiran saya sepanjang saya hidup. Keputusan untuk kuliah di Solo adalah keputusan yang waktu itu adalah menurut saya keputusan yang paling baik. Karena waktu itu kondisi rumah sedang tidak baik-baik saja, dan yang saya pengin cuma satu; jauh dari rumah, yang kemudian saya berharap saya akan pulang dengan sangat jarang. Dan pada akhirnya semua itu benar-benar terwujud. Saya pulang dengan sangat jarang.

Lulus kuliah di Solo kemudian saya dilempar ke kota lain. Saya tidak mau menyebutkannya. Rasanya untuk mengetiknya saja ingin menangis. Kota yang saya pikir jadi penyebab kenapa rasa cemas dan takut selalu mengikuti saya hingga sekarang. Kota itu tidak salah apa-apa. Saya saja yang gak cocok buat hidup disana, waktu itu. Tapi bahkan mungkin nanti, lusa, atau tahun-tahun depan saya tetap enggan. Ada trauma yang mendalam. Ada banyak kejadian buruk yang menimpa saya disana dan itu selalu buat saya berhasil menangis kalau diingat lagi. Sebenarnya saya bosan. Saya berulang kali menceritakan soal kota itu. Padahal sudah tahu bahwa akhirnya saya akan menangis. Kota yang membuat saya terguncang. Kota yang merupakan titik awal kalau kehidupan saya setelah menginjakan kaki disana akan menjadi lebih berat. Kota yang mengubah saya; mungkin lebih berani melawan orang lain? Mungkin juga lain kali saya harus meluangkan sedikit waktu saya untuk memikirkan kalau saya harus berterima kasih kepada kota itu dan segala macam isinya yang jadi kenangan sekaligus pelajaran buat hidup saya.

Dan faktanya sebetulnya saya nggak pernah benar-benar siap untuk jauh dari rumah. Tapi dulu, rasanya untuk tetap terus di rumah adalah pilihan yang tidak sama baiknya.

Saya nggak tahu. Ya, saya belum tahu rencana Sang Pencipta kedepannya akan seperti apa. Mungkin saat ini sebetulnya ada masa depan baik yang sedang mengikuti saya di belakang sampai akhirnya dia akan muncul di depan saya ketika saya sudah lulus dari rasa tidak karuan ini dan saya nggak tahu lagi, yang saya tahu pasti rencana Sang Pencipta lebih asik dan keren dari yang biasanya saya kira.



Tapi ini masih belum selesai, ya?



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Entah

Seperti merindukan seseorang, tapi entah siapa. Seperti ingin mengulang hal-hal yang dulu indah dilakukan, tapi entah melakukan apa dan dengan siapa. Bercampur dengan rasa kehilangan, tapi entah juga kehilangan siapa. Rasanya aneh, bingung, tapi juga sesak. Seperti benar-benar sakit, tapi entah karena apa. Ada sesuatu yang hilang, tapi entah apa yang hilang. Sedih sekali tapi tak ada alasan yang bisa mendasari. Seperti ingin lari menuju sesuatu tapi tidak tahu yang ingin dituju adalah tempat atau seseorang. Seperti ingin mengatakan sesuatu kepada seseorang, semacam “aku merindukanmu” pada orang yang sudah lama tidak bertemu, tidak berkabar, tidak bercerita. Ada yang terasa begitu salah dan ingin sekali permintaan maaf terucap, tapi entah apa yang telah menjadi kesalahan. Aneh,     06.59 10/4/20

#3 Saat Tidak Mengerti Dunia

Dunia itu... Dunia itu adalah salah satu hal yang sangat rumit untuk dimengerti, juga dipahami. Terkadang saking rumitnya, saya sampai ingin kabur dari dunia ini, dari Bumi ini, mungkin ke Mars bisa jadi pilihan, tapi sayangnya nggak ada agen yang jual tiketnya. Apa saya harus ganti cita-cita jadi astronot saja? Ah, jangan deh! Nggak usah! Jangan keseringan ganti cita-cita! Dulu katanya waktu SD, kalau sudah besar nanti inginnya jadi guru. Lalu ditanya lagi, inginnya jadi dokter. Ditanya lagi, jawabnya ingin jadi presiden. Bicara soal cita-cita, saya nggak pernah punya cita-cita yang pasti dari kecil. Cita-cita itu selalu berubah menyesuaikan mood saya. Tapi sayangnya, dunia ini nggak akan mengikuti maunya saya. Saya yang harus menyesuaikan dan mengikuti dunia. Tapi dewasa ini, ada satu keinginan yang sangat-sangat ingin saya wujudkan. Penulis. Tahun 2017 lalu, iya kira-kira 2017, saya mulai memikirkan kata itu. Saya mencoba untuk menulis, apa saja, pokoknya menulis. En...

Bermakna

Be, semua yang kita lewati bertahun-tahun itu akan tetap jadi bermakna walau pada akhirnya ternyata kata bersama tidak memihak pada kata kita yang aku dan kamu telah coba buat. Be, kadang aku merasa semua yang kita lalui terasa sia-sia. Tapi tidak apa-apa. Seiring berjalannya waktu, aku pasti paham mengapa Tuhan menggariskan takdir yang seperti ini. Be, kamu pernah bilang, kalau pada akhirnya kamu tidak bersamaku, pasti kamu akan merasa kalau semua sangat-sangat disayangkan. Tapi aku tidak tahu apakah ini benar-benar akhir dari kisah kita, atau suatu saat nanti, di waktu yang tidak kita ketahui ternyata aku dan kamu bisa bersama lagi, sepertinya doamu terkabulkan. Pasti semuanya tidak perlu untuk disayangkan. Be, kamu menangis tidak sih malam itu, saat kita membuat kesepakatan kalau kita harus berjalan masing-masing? Be, kalau aku tidak menangis malam itu, apa menurutmu aku tidak benar-benar bersedih waktu kamu hilang?  Be, kadang aku ingin bercerita kepad...