Langsung ke konten utama

Postingan

Entah

Postingan terbaru

Ribuan Detik Setelah Kalimatmu

Ternyata hari ini. Hari yang telah lama kutunggu ternyata datangnya adalah hari ini, pada malam hari. Sebuah opini yang kamu yakini akan aku iyakan, kamu katakan malam ini. Sebuah kata untuk mengakhiri. Katamu, kamu belum siap. Katamu, kamu masih terlalu kenakan-kanakan. Apa kamu pikir kamu saja yang kekanak-kanakan dan aku tidak? Apa kamu pikir aku sudah benar-benar dewasa? Asal kamu tahu, aku juga ingin punya hubungan yang katamu dewasa itu. Aku juga ingin menjalani hubungan tanpa perlu merasa kekanak-kanakan juga tanpa harus merasa kalau hubungan yang kita jalani adalah sebuah kesia-siaan. Katanya mejalani hubungan yang dewasa itu bisa dipelajari seiring berjalannya waktu. Apa kamu tidak ingin mencoba untuk mempelajarinya? Apa kamu tidak ingin mempelajarinya denganku? Semua ini seperti perlombaan lari yang tiba-tiba saja berada di garis finish tapi tanpa pemenang. Kita sama-sama sampai tapi tidak ada kemenangan yang melekat pada diri kita masing-masing. Sebuah perlom...

Bermakna

Be, semua yang kita lewati bertahun-tahun itu akan tetap jadi bermakna walau pada akhirnya ternyata kata bersama tidak memihak pada kata kita yang aku dan kamu telah coba buat. Be, kadang aku merasa semua yang kita lalui terasa sia-sia. Tapi tidak apa-apa. Seiring berjalannya waktu, aku pasti paham mengapa Tuhan menggariskan takdir yang seperti ini. Be, kamu pernah bilang, kalau pada akhirnya kamu tidak bersamaku, pasti kamu akan merasa kalau semua sangat-sangat disayangkan. Tapi aku tidak tahu apakah ini benar-benar akhir dari kisah kita, atau suatu saat nanti, di waktu yang tidak kita ketahui ternyata aku dan kamu bisa bersama lagi, sepertinya doamu terkabulkan. Pasti semuanya tidak perlu untuk disayangkan. Be, kamu menangis tidak sih malam itu, saat kita membuat kesepakatan kalau kita harus berjalan masing-masing? Be, kalau aku tidak menangis malam itu, apa menurutmu aku tidak benar-benar bersedih waktu kamu hilang?  Be, kadang aku ingin bercerita kepad...

#3 Saat Tidak Mengerti Dunia

Dunia itu... Dunia itu adalah salah satu hal yang sangat rumit untuk dimengerti, juga dipahami. Terkadang saking rumitnya, saya sampai ingin kabur dari dunia ini, dari Bumi ini, mungkin ke Mars bisa jadi pilihan, tapi sayangnya nggak ada agen yang jual tiketnya. Apa saya harus ganti cita-cita jadi astronot saja? Ah, jangan deh! Nggak usah! Jangan keseringan ganti cita-cita! Dulu katanya waktu SD, kalau sudah besar nanti inginnya jadi guru. Lalu ditanya lagi, inginnya jadi dokter. Ditanya lagi, jawabnya ingin jadi presiden. Bicara soal cita-cita, saya nggak pernah punya cita-cita yang pasti dari kecil. Cita-cita itu selalu berubah menyesuaikan mood saya. Tapi sayangnya, dunia ini nggak akan mengikuti maunya saya. Saya yang harus menyesuaikan dan mengikuti dunia. Tapi dewasa ini, ada satu keinginan yang sangat-sangat ingin saya wujudkan. Penulis. Tahun 2017 lalu, iya kira-kira 2017, saya mulai memikirkan kata itu. Saya mencoba untuk menulis, apa saja, pokoknya menulis. En...

#2 Saat Merasa Buntu

“Bunuh diri itu boleh nggak sih?” Entah untuk kali yang keberapa, saya lupa, teman saya mengajukan pertanyaan itu (lagi) kepada saya. Waktu itu saya bertanya balik, “Emang nggak ada cara lain buat menyelesaikan masalah?”   Lalu dia malah bertanya lagi,   “Kenapa kasih sayang itu ada?” Lalu saya menghentikan sejenak pekerjaan saya. Saya mengamatinya. Mengamati, seperti ada sesuatu yang harus diperjelas disini. Tapi yang terjadi saya tidak merespon apapun  karena…ya karena belum tepat saja waktunya. Mungkin beberapa menit lagi. Sampai akhirnya dia bertanya lagi, “Kamu nggak mau cerita apa gitu?” “Cerita apa?” “Cerita waktu kamu menyelesaikan masalahmu?” Sebetulnya sebelum itu dia sempat tidak percaya kalau seorang saya punya masalah. Kira-kira seperti ini waktu dulu dia berbicara; “Kamu punya masalah? Hah? Masalahmu itu apa? Masa seorang kamu punya masalah?” Menyebalkan, ya? Iya, memang. Apa wajah saya sangat mendukung untuk sama sekali tidak punya m...

#1 Saat Merasa Entah Kenapa

Entah kenapa dua minggu terakhir ini saya merasa lelah sekali. Hampir setiap hari saya hanya ingin menangis. Hampir setiap hari rasanya cemas. Entah cemas karena apa, yang jelas semuanya hampir-hampir rasanya nggak enak. Sebelum ini saya juga sering merasakan hal yang sama, tapi nggak tahu kenapa porsi yang ini rasanya durasinya lebih lama. Sampai suatu ketika, beberapa hari yang lalu teman saya bertanya kepada saya, "Kamu pernah menyerah?" Mendapat pertanyaan semacam itu, saya tidak langsung menjawabnya. Seketika otak yang menampung memori saya mencoba mengingat dan berfikir, "Nggak, buktinya sampai sekarang aku masih hidup." Benarkan? Kamu setuju tidak kalau saya menjawab seperti itu? Kalau teman saya sih, "Oh, iya yah, benar juga." Yah, mungkin memang benar. Tanpa menambahkan kata 'mungkin', iya itu benar. Saya terus berjalan, menjalani hari demi hari, padahal saya sendiri belum tahu saya hidup untuk apa selain pulang ke Sang ...