Langsung ke konten utama

#3 Saat Tidak Mengerti Dunia


Dunia itu...

Dunia itu adalah salah satu hal yang sangat rumit untuk dimengerti, juga dipahami. Terkadang saking rumitnya, saya sampai ingin kabur dari dunia ini, dari Bumi ini, mungkin ke Mars bisa jadi pilihan, tapi sayangnya nggak ada agen yang jual tiketnya. Apa saya harus ganti cita-cita jadi astronot saja? Ah, jangan deh! Nggak usah! Jangan keseringan ganti cita-cita!


Dulu katanya waktu SD, kalau sudah besar nanti inginnya jadi guru. Lalu ditanya lagi, inginnya jadi dokter. Ditanya lagi, jawabnya ingin jadi presiden.

Bicara soal cita-cita, saya nggak pernah punya cita-cita yang pasti dari kecil. Cita-cita itu selalu berubah menyesuaikan mood saya. Tapi sayangnya, dunia ini nggak akan mengikuti maunya saya. Saya yang harus menyesuaikan dan mengikuti dunia. Tapi dewasa ini, ada satu keinginan yang sangat-sangat ingin saya wujudkan. Penulis. Tahun 2017 lalu, iya kira-kira 2017, saya mulai memikirkan kata itu. Saya mencoba untuk menulis, apa saja, pokoknya menulis. Entah ketika senang atau sedih, saya mencoba menuliskan barang satu dua kalimat. Seperti testimoni-testimoni yang para penulis bilang, akan ada lebih banyak ide yang muncul saat kamu sedang sedih. Saya kira, saya benar-benar membuktikannya. Rasanya ajaib.

Saat sedih saya bisa menghasilkan beribu-ribu kata dengan mudahnya. Seperti air terjun, ia mengalir begitu deras. Melewati celah-celah otak saya dan kemudian mendarat di tangan, lalu ia menggerakkan jari-jari saya. Ia lincah sekali, bagai balerina yang menari di atas panggung. Kadang saya terpukau dengan jari-jari saya sendiri. Aneh, ya? Tapi memang seperti itu. Dan kejadian itu cuma ada di dunia ini. Di tempat lain? Saya nggak tahu! Hehe.

Oh, iya. Masih bicara soal dunia, ya?
Pasti kalian seringkali bingung soal dunia? Tenang. Kalian nggak sendiri. Saya adalah salah satu dari kalian, spesies yang sama dengan watak yang berbeda. Eh, tapi kalau bingung soal isinya dunia, pernah nggak? Sering, ya? Saya jamin, iya!

Manusia-manusia yang ada di Bumi, termasuk kita sendiri, seringkali membuat manusia lain turun dan naik. Seseorang satu mempengaruhi seseorang yang lainnya. Ada timbal balik yang tercipta. Entah itu menguntungkan atau merugikan, entah itu menyenangkan atau menyedihkan, juga entah itu membahagiakan atau menyakitkan.
Semua itu terus terjadi dan akan selalu jadi bagian dari hidup. Jadi pembelajaran yang bisa kita ambil setiap harinya. Bahkan kalau itu adalah kejadian yang sangat tiba-tiba, begitu mengagetkan dan jelas tanpa ada persiapan apapun, kita harus tetap siap. Dunia dan seisinya ini nggak akan memberi kita waktu untuk "persiapan", yang kita harus lakukan adalah "waspada". Menakutkan, ya? Iya, memang. Tapi, jika kamu masih membaca tulisan ini, berarti kamu hebat. Kamu hebat karena telah bertahan sampai sejauh ini. Kalau saya ingin jadi- bukan, saya ingin bergabung dengan kehebatan itu, boleh tidak? Jadi begini, emm jadi kita adalah sesuatu yang hebat. Hehe. Iya, kan? Iya, lah! Iya, dong!

Well, saya pernah kecewa dengan manusia-manusia di Bumi ini, dengan isi dunia ini yang pernah banget bikin saya terpuruk. Yang waktu itu sama sekali nggak ngasih saya jeda buat menghirup oksigen yang dihasilkan pohon dengan baik. Saya sedih juga ingin marah. Saya nggak ngerti, sama sekali nggak ngerti, tapi saya juga harus tetap melangkah agar saya terbebas.

Saya harus menemukan jalan. Saya nggak bisa disitu terus-menerus. Akhirnya saya mengambil jalan ninja. Jalan ninja? Iya, anggap saja seperti itu. Tapi, itu bukan sesuatu yang dadakan. Itu merupakan hasil pemikiran panjang disela-sela kesesakan yang hampir-hampir mencekik saya. Keputusan yang menurut saya adalah yang terbaik untuk diambil.

Saya terus berjalan, sampai kemudian saya bisa melihat seberkas cahaya dari satu pintu gerbang. Ketika saya akan keluar dengan menarik daun pintunya, semilir angin mulai berdatangan lalu membelai kedua pipi saya. Kemudian mereka menarik kedua sudut bibir saya. Saya tersenyum. Lega. Saya berhasil. Saya berhasil membahagiakan diri saya lagi dengan melepaskan keraguan dengan sedikit demi sedikit mengurai ketakutan. Keputusan disela-sela sesak itu benar-benar berhasil membebaskan saya. Saya harusnya berterima kasih kepada diri saya sendiri.

Terima kasih karena telah berani mengambil keputusan.
Terima kasih karena telah berhasil melawan rasa takut.
Terima kasih karena telah berhasil meninggalkan keraguan.
Terima kasih karena telah mampu menguatkan diri.
Terima kasih karena telah bisa berdiri tegak lagi.
Terima kasih karena tidak lagi menyiksa diri.
Terima kasih karena tidak jadi menyerah.
Terima kasih karena telah berhasil mengambil tanggung jawab yang lain dengan jalan yang berbeda. Jalan yang lebih membahagiakan. Jalan yang semoga selalu ada bunga-bunga di tiap tepinya, mengantarkan dengan wewangiannya ke puncak titik kebahagiaan yang paling sempurna.


Sekali lagi,
Terima kasih.


xx.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Entah

Seperti merindukan seseorang, tapi entah siapa. Seperti ingin mengulang hal-hal yang dulu indah dilakukan, tapi entah melakukan apa dan dengan siapa. Bercampur dengan rasa kehilangan, tapi entah juga kehilangan siapa. Rasanya aneh, bingung, tapi juga sesak. Seperti benar-benar sakit, tapi entah karena apa. Ada sesuatu yang hilang, tapi entah apa yang hilang. Sedih sekali tapi tak ada alasan yang bisa mendasari. Seperti ingin lari menuju sesuatu tapi tidak tahu yang ingin dituju adalah tempat atau seseorang. Seperti ingin mengatakan sesuatu kepada seseorang, semacam “aku merindukanmu” pada orang yang sudah lama tidak bertemu, tidak berkabar, tidak bercerita. Ada yang terasa begitu salah dan ingin sekali permintaan maaf terucap, tapi entah apa yang telah menjadi kesalahan. Aneh,     06.59 10/4/20

Bermakna

Be, semua yang kita lewati bertahun-tahun itu akan tetap jadi bermakna walau pada akhirnya ternyata kata bersama tidak memihak pada kata kita yang aku dan kamu telah coba buat. Be, kadang aku merasa semua yang kita lalui terasa sia-sia. Tapi tidak apa-apa. Seiring berjalannya waktu, aku pasti paham mengapa Tuhan menggariskan takdir yang seperti ini. Be, kamu pernah bilang, kalau pada akhirnya kamu tidak bersamaku, pasti kamu akan merasa kalau semua sangat-sangat disayangkan. Tapi aku tidak tahu apakah ini benar-benar akhir dari kisah kita, atau suatu saat nanti, di waktu yang tidak kita ketahui ternyata aku dan kamu bisa bersama lagi, sepertinya doamu terkabulkan. Pasti semuanya tidak perlu untuk disayangkan. Be, kamu menangis tidak sih malam itu, saat kita membuat kesepakatan kalau kita harus berjalan masing-masing? Be, kalau aku tidak menangis malam itu, apa menurutmu aku tidak benar-benar bersedih waktu kamu hilang?  Be, kadang aku ingin bercerita kepad...