Dunia itu...
Dunia itu adalah salah satu hal yang sangat rumit untuk dimengerti, juga dipahami. Terkadang saking rumitnya, saya sampai ingin kabur dari dunia ini, dari Bumi ini, mungkin ke Mars bisa jadi pilihan, tapi sayangnya nggak ada agen yang jual tiketnya. Apa saya harus ganti cita-cita jadi astronot saja? Ah, jangan deh! Nggak usah! Jangan keseringan ganti cita-cita!
Dulu katanya waktu SD, kalau sudah besar nanti
inginnya jadi guru. Lalu ditanya lagi, inginnya jadi dokter. Ditanya lagi,
jawabnya ingin jadi presiden.
Bicara soal cita-cita, saya nggak pernah punya
cita-cita yang pasti dari kecil. Cita-cita itu selalu berubah menyesuaikan mood
saya. Tapi sayangnya, dunia ini nggak akan mengikuti maunya saya. Saya yang harus
menyesuaikan dan mengikuti dunia. Tapi dewasa ini, ada satu keinginan yang
sangat-sangat ingin saya wujudkan. Penulis. Tahun 2017 lalu, iya kira-kira
2017, saya mulai memikirkan kata itu. Saya mencoba untuk menulis, apa saja,
pokoknya menulis. Entah ketika senang atau sedih, saya mencoba menuliskan
barang satu dua kalimat. Seperti testimoni-testimoni yang para penulis bilang,
akan ada lebih banyak ide yang muncul saat kamu sedang sedih. Saya kira, saya
benar-benar membuktikannya. Rasanya ajaib.
Saat sedih saya bisa menghasilkan beribu-ribu
kata dengan mudahnya. Seperti air terjun, ia mengalir begitu deras. Melewati
celah-celah otak saya dan kemudian mendarat di tangan, lalu ia menggerakkan
jari-jari saya. Ia lincah sekali, bagai balerina yang menari di atas panggung.
Kadang saya terpukau dengan jari-jari saya sendiri. Aneh, ya? Tapi memang
seperti itu. Dan kejadian itu cuma ada di dunia ini. Di tempat lain? Saya nggak
tahu! Hehe.
Oh, iya. Masih bicara soal dunia, ya?
Pasti kalian seringkali bingung soal dunia? Tenang. Kalian nggak sendiri. Saya adalah salah satu dari kalian, spesies yang sama dengan watak yang berbeda. Eh, tapi kalau bingung soal isinya dunia, pernah nggak? Sering, ya? Saya jamin, iya!
Pasti kalian seringkali bingung soal dunia? Tenang. Kalian nggak sendiri. Saya adalah salah satu dari kalian, spesies yang sama dengan watak yang berbeda. Eh, tapi kalau bingung soal isinya dunia, pernah nggak? Sering, ya? Saya jamin, iya!
Manusia-manusia yang ada di Bumi, termasuk kita
sendiri, seringkali membuat manusia lain turun dan naik. Seseorang satu
mempengaruhi seseorang yang lainnya. Ada timbal balik yang tercipta. Entah itu
menguntungkan atau merugikan, entah itu menyenangkan atau menyedihkan, juga
entah itu membahagiakan atau menyakitkan.
Semua itu terus terjadi dan akan selalu jadi
bagian dari hidup. Jadi pembelajaran yang bisa kita ambil setiap harinya.
Bahkan kalau itu adalah kejadian yang sangat tiba-tiba, begitu mengagetkan dan
jelas tanpa ada persiapan apapun, kita harus tetap siap. Dunia dan seisinya ini
nggak akan memberi kita waktu untuk "persiapan", yang kita harus
lakukan adalah "waspada". Menakutkan, ya? Iya, memang. Tapi, jika
kamu masih membaca tulisan ini, berarti kamu hebat. Kamu hebat karena telah
bertahan sampai sejauh ini. Kalau saya ingin jadi- bukan, saya ingin bergabung
dengan kehebatan itu, boleh tidak? Jadi begini, emm jadi kita adalah sesuatu
yang hebat. Hehe. Iya, kan? Iya, lah! Iya, dong!
Well, saya pernah kecewa dengan manusia-manusia di
Bumi ini, dengan isi dunia ini yang pernah banget bikin saya terpuruk. Yang
waktu itu sama sekali nggak ngasih saya jeda buat menghirup oksigen yang
dihasilkan pohon dengan baik. Saya sedih juga ingin marah. Saya nggak ngerti,
sama sekali nggak ngerti, tapi saya juga harus tetap melangkah agar saya
terbebas.
Saya harus menemukan jalan. Saya nggak bisa
disitu terus-menerus. Akhirnya saya mengambil jalan ninja. Jalan ninja? Iya,
anggap saja seperti itu. Tapi, itu bukan sesuatu yang dadakan. Itu merupakan
hasil pemikiran panjang disela-sela kesesakan yang hampir-hampir mencekik saya.
Keputusan yang menurut saya adalah yang terbaik untuk diambil.
Saya terus berjalan, sampai kemudian saya bisa
melihat seberkas cahaya dari satu pintu gerbang. Ketika saya akan keluar dengan
menarik daun pintunya, semilir angin mulai berdatangan lalu membelai kedua pipi
saya. Kemudian mereka menarik kedua sudut bibir saya. Saya tersenyum. Lega.
Saya berhasil. Saya berhasil membahagiakan diri saya lagi dengan melepaskan
keraguan dengan sedikit demi sedikit mengurai ketakutan. Keputusan disela-sela
sesak itu benar-benar berhasil membebaskan saya. Saya harusnya berterima kasih
kepada diri saya sendiri.
Terima kasih karena telah berani mengambil
keputusan.
Terima kasih karena telah berhasil melawan rasa takut.
Terima kasih karena telah berhasil meninggalkan keraguan.
Terima kasih karena telah mampu menguatkan diri.
Terima kasih karena telah bisa berdiri tegak lagi.
Terima kasih karena tidak lagi menyiksa diri.
Terima kasih karena tidak jadi menyerah.
Terima kasih karena telah berhasil mengambil tanggung jawab yang lain dengan jalan yang berbeda. Jalan yang lebih membahagiakan. Jalan yang semoga selalu ada bunga-bunga di tiap tepinya, mengantarkan dengan wewangiannya ke puncak titik kebahagiaan yang paling sempurna.
Terima kasih karena telah berhasil melawan rasa takut.
Terima kasih karena telah berhasil meninggalkan keraguan.
Terima kasih karena telah mampu menguatkan diri.
Terima kasih karena telah bisa berdiri tegak lagi.
Terima kasih karena tidak lagi menyiksa diri.
Terima kasih karena tidak jadi menyerah.
Terima kasih karena telah berhasil mengambil tanggung jawab yang lain dengan jalan yang berbeda. Jalan yang lebih membahagiakan. Jalan yang semoga selalu ada bunga-bunga di tiap tepinya, mengantarkan dengan wewangiannya ke puncak titik kebahagiaan yang paling sempurna.
Sekali lagi,
Terima kasih.♡
Terima kasih.♡
xx.

Komentar
Posting Komentar