Langsung ke konten utama

Ribuan Detik Setelah Kalimatmu


Ternyata hari ini. Hari yang telah lama kutunggu ternyata datangnya adalah hari ini, pada malam hari. Sebuah opini yang kamu yakini akan aku iyakan, kamu katakan malam ini. Sebuah kata untuk mengakhiri.

Katamu, kamu belum siap.
Katamu, kamu masih terlalu kenakan-kanakan.

Apa kamu pikir kamu saja yang kekanak-kanakan dan aku tidak?
Apa kamu pikir aku sudah benar-benar dewasa?

Asal kamu tahu, aku juga ingin punya hubungan yang katamu dewasa itu. Aku juga ingin menjalani hubungan tanpa perlu merasa kekanak-kanakan juga tanpa harus merasa kalau hubungan yang kita jalani adalah sebuah kesia-siaan.

Katanya mejalani hubungan yang dewasa itu bisa dipelajari seiring berjalannya waktu. Apa kamu tidak ingin mencoba untuk mempelajarinya? Apa kamu tidak ingin mempelajarinya denganku?

Semua ini seperti perlombaan lari yang tiba-tiba saja berada di garis finish tapi tanpa pemenang. Kita sama-sama sampai tapi tidak ada kemenangan yang melekat pada diri kita masing-masing. Sebuah perlombaan yang aneh dan lucu. Hingga akhirnya kita memilih untuk menaiki podium tanpa label juara.

Sebetulnya aku lega. Aku memang setuju dengan opinimu itu. Aku memang setuju dengan kalimat keputusanmu itu. Tapi, ada yang aneh. Ada yang tiba-tiba hilang tanpa memberi aba-aba.

Aku yang berbulan-bulan sudah wanti-wanti kalau hari ini akan terjadi tetap berujung pergi dengan langkah yang berat. Cukup terseok-seok untuk bisa dikatakan tidak baik-baik saja.

Berbekal keyakinan kalau ribuan detik setelah ini kehidupan akan membaik, bahkan ingin sekali kalau lebih baik dari sebelum kamu muncul, aku memilih untuk terus melangkah. Meninggalkan perapian yang sempat menghangatkan dikala semua hidup terasa begitu dingin. Meninggalkan tempat singgah yang sudah enggan menampung.

Jika boleh untuk yang semoga bukan terakhir, aku meminta untuk kamu mendoakanku agar kita sama-sama menemukan jalan yang baik. Jalan yang selalu dipenuhi dengan lambaian kebahagiaan dari tangan-tangan terbaik yang ada di bumi.

Jika kamu melihat tangan-tangan itu, aku akan bahagia. Karena salah satu dari tangan-tangan itu adalah tanganku. Tangan yang belum benar-benar siap untuk turun melambangkan apa itu berakhir. Tangan yang masih mau naik untuk melambaikan kebahagiaan kepadamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Entah

Seperti merindukan seseorang, tapi entah siapa. Seperti ingin mengulang hal-hal yang dulu indah dilakukan, tapi entah melakukan apa dan dengan siapa. Bercampur dengan rasa kehilangan, tapi entah juga kehilangan siapa. Rasanya aneh, bingung, tapi juga sesak. Seperti benar-benar sakit, tapi entah karena apa. Ada sesuatu yang hilang, tapi entah apa yang hilang. Sedih sekali tapi tak ada alasan yang bisa mendasari. Seperti ingin lari menuju sesuatu tapi tidak tahu yang ingin dituju adalah tempat atau seseorang. Seperti ingin mengatakan sesuatu kepada seseorang, semacam “aku merindukanmu” pada orang yang sudah lama tidak bertemu, tidak berkabar, tidak bercerita. Ada yang terasa begitu salah dan ingin sekali permintaan maaf terucap, tapi entah apa yang telah menjadi kesalahan. Aneh,     06.59 10/4/20

#3 Saat Tidak Mengerti Dunia

Dunia itu... Dunia itu adalah salah satu hal yang sangat rumit untuk dimengerti, juga dipahami. Terkadang saking rumitnya, saya sampai ingin kabur dari dunia ini, dari Bumi ini, mungkin ke Mars bisa jadi pilihan, tapi sayangnya nggak ada agen yang jual tiketnya. Apa saya harus ganti cita-cita jadi astronot saja? Ah, jangan deh! Nggak usah! Jangan keseringan ganti cita-cita! Dulu katanya waktu SD, kalau sudah besar nanti inginnya jadi guru. Lalu ditanya lagi, inginnya jadi dokter. Ditanya lagi, jawabnya ingin jadi presiden. Bicara soal cita-cita, saya nggak pernah punya cita-cita yang pasti dari kecil. Cita-cita itu selalu berubah menyesuaikan mood saya. Tapi sayangnya, dunia ini nggak akan mengikuti maunya saya. Saya yang harus menyesuaikan dan mengikuti dunia. Tapi dewasa ini, ada satu keinginan yang sangat-sangat ingin saya wujudkan. Penulis. Tahun 2017 lalu, iya kira-kira 2017, saya mulai memikirkan kata itu. Saya mencoba untuk menulis, apa saja, pokoknya menulis. En...

Bermakna

Be, semua yang kita lewati bertahun-tahun itu akan tetap jadi bermakna walau pada akhirnya ternyata kata bersama tidak memihak pada kata kita yang aku dan kamu telah coba buat. Be, kadang aku merasa semua yang kita lalui terasa sia-sia. Tapi tidak apa-apa. Seiring berjalannya waktu, aku pasti paham mengapa Tuhan menggariskan takdir yang seperti ini. Be, kamu pernah bilang, kalau pada akhirnya kamu tidak bersamaku, pasti kamu akan merasa kalau semua sangat-sangat disayangkan. Tapi aku tidak tahu apakah ini benar-benar akhir dari kisah kita, atau suatu saat nanti, di waktu yang tidak kita ketahui ternyata aku dan kamu bisa bersama lagi, sepertinya doamu terkabulkan. Pasti semuanya tidak perlu untuk disayangkan. Be, kamu menangis tidak sih malam itu, saat kita membuat kesepakatan kalau kita harus berjalan masing-masing? Be, kalau aku tidak menangis malam itu, apa menurutmu aku tidak benar-benar bersedih waktu kamu hilang?  Be, kadang aku ingin bercerita kepad...