Ternyata hari ini. Hari yang telah lama kutunggu ternyata datangnya adalah hari ini, pada malam hari. Sebuah opini yang kamu yakini akan aku iyakan, kamu katakan malam ini. Sebuah kata untuk mengakhiri.
Katamu, kamu belum siap.
Katamu, kamu masih terlalu kenakan-kanakan.
Apa kamu pikir kamu saja yang kekanak-kanakan dan aku tidak?
Apa kamu pikir aku sudah benar-benar dewasa?
Asal kamu tahu, aku juga ingin punya hubungan yang katamu dewasa itu. Aku juga ingin menjalani hubungan tanpa perlu merasa kekanak-kanakan juga tanpa harus merasa kalau hubungan yang kita jalani adalah sebuah kesia-siaan.
Katanya mejalani hubungan yang dewasa itu bisa dipelajari seiring berjalannya waktu. Apa kamu tidak ingin mencoba untuk mempelajarinya? Apa kamu tidak ingin mempelajarinya denganku?
Semua ini seperti perlombaan lari yang tiba-tiba saja berada di garis finish tapi tanpa pemenang. Kita sama-sama sampai tapi tidak ada kemenangan yang melekat pada diri kita masing-masing. Sebuah perlombaan yang aneh dan lucu. Hingga akhirnya kita memilih untuk menaiki podium tanpa label juara.
Sebetulnya aku lega. Aku memang setuju dengan opinimu itu. Aku memang setuju dengan kalimat keputusanmu itu. Tapi, ada yang aneh. Ada yang tiba-tiba hilang tanpa memberi aba-aba.
Aku yang berbulan-bulan sudah wanti-wanti kalau hari ini akan terjadi tetap berujung pergi dengan langkah yang berat. Cukup terseok-seok untuk bisa dikatakan tidak baik-baik saja.
Berbekal keyakinan kalau ribuan detik setelah ini kehidupan akan membaik, bahkan ingin sekali kalau lebih baik dari sebelum kamu muncul, aku memilih untuk terus melangkah. Meninggalkan perapian yang sempat menghangatkan dikala semua hidup terasa begitu dingin. Meninggalkan tempat singgah yang sudah enggan menampung.
Jika boleh untuk yang
Jika kamu melihat tangan-tangan itu, aku akan bahagia. Karena salah satu dari tangan-tangan itu adalah tanganku. Tangan yang belum benar-benar siap untuk turun melambangkan apa itu berakhir. Tangan yang masih mau naik untuk melambaikan kebahagiaan kepadamu.

Komentar
Posting Komentar